Malam pertama adalah malam dimana dua sejoli yang sebelumnya tidak
saling mengenal secara mendalam akan bertemu secara intim dan melakukan
hubungan seks. Yang penting harus diperhatikan, pertama adalah kamar
pengantin. Kamar harus didekor dengan baik dan mendorong meningkatkan
gairah seksual keduanya.
Pada saat akan bercampur, suami sudah
seharusnya mengambil inisiatif terlebih dahulu. Sebab, kebutuhan suami
lebih mudah diekspresikan kepada istri dengan melakukan usapan, ciuman
sampai memasukkan penis kedalam vagina istrinya. Dengan kondisi fisik
yang demikian, suami bisa dengan leluasa mengaturnya. Konsentrasikan
perhatian pada kemesraan keduanya dalam berhubungan seks.
Berbagai
gejolak emosional pada malam itu terletup. Kondisi memang mendukung
untuk menimbulkan gejolak itu, ditambah badan letih akibat acara resepsi
di siang hari. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan hubungan
seks pertamanya pada hari kedua atau ketiga di mana rasa lelah dan
letihnya sudah hilang dan jiwapun sudah tenang.
Perlu diketahui,
biasanya hubungan seks di malam pertama ini sering menemui kegagalan.
Ini tidak perlu dirisaukan dan membuat trauma. Bisa dimengerti kedua
pasangan sama sekali belum berpengalaman dan baru saling mengenal organ
tubuh pasangannya. Bagaimana mungkin dalam waktu semalam sepasangan
suami istri bisa ahli melakukan sesuatu yang asing dan penuh gejolak
ini. Kondisi inilah yang harus dimengerti kedua belah pihak sehingga
tidak saling menyalahkan satu sama lain apabila tidak memuaskan.
Mulailah
dengan melakukan usapan-usapan, saling merayu dan melakukan
ciuman-ciuman yang hangat. Disinilah gunanya foreplay pada malam
pertama. Suami akan memberikan bimbingan dan ketenangan bagi istrinya
dalam proses hubungan seks ini sehingga mereka bisa melaju bersama
mendapatkan puncak kenikmatan. Pada malam pertama tersebut, tidak perlu
harus terjadi penetrasi. Bermain-main saja sudah cukup bagi pasangan
baru tersebut. Baru pada hari ketiga atau keempat, setelah mengenal
karakteristik seksual masing-masing, penetrasi bisa dilakukan. Vagina
pun sudah terbiasa merenggang sehingga bisa dengan mudah menerima
masuknya penis suami.
Saling memahami perasaan kedua belah pihak
harus selalu dilakukan. Karena suami yang mengambil inisiatif, tanyakan
pada istri posisi mana yang enak. Biasanya pada hubungan pertama ini
posisi berhadapan suami diatas dan istri dibawah. Bila perlu, taruhlah
bantal dibawah pantat istri. Posisi ini memudahkan penis untuk masuk
kedalam vagina. Setelah melakukan foreplay sampai ‘hangat’, suami harus
menanyakan pada istrinya apakah siap bila penisnya dimasukkan. Bila
istri merasa vaginanya sudah merenggang dan basah oleh cairan pembasah
maka ia udah siap menerima penis secara fisik. Suami harus sabar bila
secara kejiwaan istri belum siap menerima penisnya. Pada saat suami
menembus liang vagina, penisnya akan merobek selaput dara yang selama
ini menjadi lambang kegadisannya. Perobekan ini tidak selalu membawa
pada pendarahan. Sehingga suami tidak perlu curiga apabila saat
penetrasi itu tidak keluar darah dan kemudian berpikir yang bukan-bukan
terhadap istrinya. Dan jangan sekali-kali hal itu diungkap atau
dibicarakan saat berhubungan seks pada malam itu. Ketersinggungan istri
akan membuat hubungan buruk menimpa mereka.
Kondisi selaput dara
yang sudah robek sebelum malam pertama memang banyak sebabnya, seperti
kebiasaan istri berolah raga keras seperti bela diri, mengendarai kuda,
bersepeda, atau kegiatan yang banyak gerak sekitar selangkangannya. Jadi
tidak harus karena hubungan seks. Pokoknya dalam berhubungan seks,
berlakulah sebijak mungkin. Bila ada sesuatu yang kurang menyenangkan
atau menimbulkan rasa sakit, mintalah maaf dan jangan diteruskan.
Pada
hubungan seks pertama usahakan dengan sabar keduanya dapat mencapai
orgasme. Tapi jangan terlalu dipaksa. Orgasme yang diperoleh pada malam
pertama akan memberikan kesan yang mendalam dalam kehidupan rumah tangga
selanjutnya. Tapi bila gagal, kedua pasangan tidak perlu menyesalinya.
Suami harus pandai menghibur istri dengan mengatakan bahwa ia mencintai
istrinya, mencium-ciumnya dengan mesra, dan mengatakan, “kita akan coba
lagi, sayang”. Istri yang diperlakukan demikian akan tenang dan tertidur
pulas dengan bahagia, walaupun puncak asmaranya tidak tercapai malam
itu.
Singkatnya, malam pertama adalah puncak dari segala kegiatan
acara resepsi pernikahan. Segala harapan akan keindahan bertumpu pada
malam itu. Gejolak asmara dan birahi akan meluap-luap pada saat yang
dinanti-nantikan itu. Namun yang perlu disadari, harapan itu bisa saja
tidak terpenuhi pada malam pertama. Mereka harus yakin puncak kenikmatan
seksual akan didapatkannya pada hari-hari berikutnya.
artikel yang bagus, bermanfaat bagi para pengantin baru
BalasHapus