Belakangan banyak seksolog yang berkesimpulan bahwa ejakulasi tidak sama dengan orgasme.
Untuk
membuktikan hal tersebut akan diberikan contoh seperti dibahas dalam
buku yang sama. Johnny dan istri (nama samaran) datang berkonsultasi ke
seorang seksolog. Mereka mengeluhkan sang suami tidak pernah lagi
mengalami orgasme. Katanya, gangguan ini datangnya tiba-tiba, padahal
perkawinan sudah berusia enam tahun. Pada saat hubungan seks, kadang
berlangsung sampai dua atau tiga jam tapi tidak berhasil mencapai
puncak. Akhirnya istrinya menyerah dan setiap selesai hubungan seks
mereka tidak bisa tidur nyenyak. Sang istripun kemudian menjadi enggan
melayani suami. Setiap berhubungan seks dia merasa lelah bukan main.
Seluruh tubuh menjadi terasa pegal dan sakit.
Setelah melalui
proses penelitian terhadap hubungan kedua pasangan tersebut pada saat
sebelum terjadinya problem itu ternyata didapat sebuah kajian menarik.
Ternyata Johnny menyimpan dendam dan marah terhadap istrinya. Perasaan
suami ini berasal dari adanya hubungan antara sang istri dengan bekas
bosnya sendiri yang telah berlangsung selama tiga tahun. Ini diketahui
berdasarkan pengakuan istrinya sendiri. Lantaran rasa marah kepada
istri, kemudian Johnny meninggalkan rumah. Namun, sesudah satu minggu,
Johnny kembali lagi. Kerinduan dan kecintaan pada istri dan anak
meluluhkan emosinya. Menurut pengakuannya, bagaimanapun buruknya
kelakuan istri, ia tetap mencintainya. Kemudian mereka sepakat untuk
hengkang dari lingkungan itu dengan harapan tidak bertemu lagi dengan
sang bos laknat itu. Mereka ingin membuka lembaran hidup baru. Selama
rumah tangga bergejolak, mereka tidak pernah melakukan hubungan seks.
Setelah pindah baru mereka kembali mesra. Namun setiap hubungan seks
selama dua atau tiga jam, Johnny tidak bisa orgasme. Demikian
berulang-ulang setiap hubungan seks.
Ternyata rasa benci dan
dendam Johnny belum hilang. Namun, disisi lain ia tetap mencintai
istrinya. Benci dan cinta membuat orgasme tak kunjung datang. Rupanya,
di balik kegagalan itu dia melampiaskan rasa marahnya, membalas dendam
pada istrinya. Inilah gejolak jiwa yang bermain di belakang. Di luar
sadarnya ia ingin menyiksa isterinya. Setelah latar belakang ini
terungkap, selesailah problem kejiwaan mereka dan mereka bisa kembali
merasakan ejakulasi pada setiap berhubungan seks.
Dari kasus
diatas dapat disimpulkan bahwa datang orgasme sebenarnya dikoordinasikan
oleh otak, bukan masalah fisik semata. Adanya rasa dendam, benci dan
marah membuat otak tidak mengkoordinasikan orgasme pada tubuh. Otaklah
yang mengatur orgasme dan tingkat kenikmatan. Kalau otak terganggu maka
orgasme juga akan terganggu atau akan berkurang kenikmatannya. Ini
sering kita dapatkan pada orang-orang yang memuaskan nafsu seksualnya
dengan pelacur atau dengan onani. Karena perasaan bersalah, berdosa atau
kurang nyaman maka orgasme tidak akan tercapai walaupun air maninya
keluar. Jadi, otaklah yang paling berperan dalam mencapai orgasme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar